Pages

Rabu, 04 Juli 2018

Zaman PKI Berkuasa

ZAMAN KETIKA PKI MASIH BERKUASA

Oleh: HAMKA

Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan.  Belum tentu yg tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yg benar. Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dgn suara yg gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dgn sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yg berlangsung di Palembang tahun 1957.  Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yg amoral.

Pidato yg berapi-api itu disambut dgn gemuruh oleh massa yg mendengarkan, terdiri dari parpol dan ormas yg menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia.  Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi, semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).

Malanglah nasib Alim-Ulama yg berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sbg orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang.  “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden. Banyak orang yg tidak tahu apa gerangan yg dihasilkan oleh Alim-Ulama yg berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yg berani) yg mendukung konferensi Alim-Ulama itu, publikasi-publikasi pembela Soekarno dan surat-surat kabar komunis telah mencaci maki Alim-Ulama kita.

Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dgn Keputusan Sidang MPRS ke IV yg berlangsung bulan Juli 1966 lalu.

Muktamar yg berlangsung pada tgl 8 – 11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa :

1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya.
2. Bagi orang yg menganut ideologi-ajaran komunisme dgn keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.
3. Bagi orang yg memasuki organisasi atau partai-partai berideologi komunisme, PKI, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lain dgn keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.

Demikian bunyi resolusi yg diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu. Resolusi yg ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan. Karena resolusi yg demikian itulah para ulama kita yg bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral /kurangajar).

Akibat dari keputusan Muktamar tersebut, Alim-Ulama kita yg sejati langsung dituduh sbg orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan sebagainya. Maka K.H. M. Isa Anshary sbg ketua yg menandatangani resolusi itu pada tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun. Dan banyak lagi Alim-Ulama yg terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi.  Terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yg masih kecil-kecil. Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno. Di samping itu, ada “ulama” lain yg karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dgn ajaran-ajaran yg penuh maksiat itu, bermesra-mesra dgn komunis di bawah panji Nasakom.

Bertahun lamanya masa kemesraan dgn komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sbg ajaran paling tinggi di dunia.  Dan ulama yg dipandang kontra revolusi yg telah memutuskan komunis sbg paham kafir yg harus diperangi, dihina dalam setiap pidato dan dalam setiap tulisan. Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sbg orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.

Nasehat dan fatwa ulama yg didasarkan kepada ajaran-ajaran Al Qur’an, dikalahkan dgn ajaran-ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.

Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia.  Kejahatan komunis akhirnya terbukti dgn Gestapu-nya. Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum DIA membuktikan kebenaran apa yg dikatakan oleh Alim-Ulama itu hampir sepuluh tahun lalu.

Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sbg berikut :

“Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme /Marxisme / Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.

Dgn keputusan MPRS tsb, apa yg mau dikata tentang Alim-Ulama kita yg dulu dikatakan amoral oleh Soekarno? Insya Allah para Alim-Ulama kita dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yg dilemparkan kepada mereka. Dan sbg ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yg berat dari Tuhan.

Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan.

Ulama yg berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah ahli waris para nabi.

Nabi-nabi banyak yg dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yg dialami Nabi Ibrahim a.s. yg dipanggang dalam api unggun yg besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yg gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.

Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya.  Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petik bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama, namun hanya dari sejarah 10 tahun yg lalu.

(Disarikan dari Kumpulan Rubrik Dari Hati ke Hati, Majalah Panji Mas dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panji Mas hal 319

Selasa, 12 Juni 2018

Menolak Islam Nusantara

MENOLAK ALIRAN ISLAM NUSANTARA

Oleh : Ahmad Sastra

Akhir-akhir ini kaum akademisi muslim sedang disibukkan oleh wacana kontroversial bertajuk aliran Islam Nusantara.   Banyak tokoh intelektual  menyambut wacana ini dengan antusias berupa kajian dan opini publik berdasarkan tafsir subyektivisme masing-masing.

Bahkan sudah banyak tokoh menebar wacana Islam nusantara sebagai proyek intelektual.

Sebagai sekedar contoh tulisan saudara Muhammad Sulton Fatoni tentang karakteristik Islam nusantara dan kesimpulan seminar saudara Abdul Munir Mulkan yang  mengangkat tokoh Soekarno sebagai representasi Islam berbudaya yang ia klaim sebagai mewakili Islam rahmatan lil’alamin.

Ada juga suara dari kalangan perguruan tinggi umum, Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yang ‘menafsirkan’ Islam Nusantara dengan menolak simbol-simbol yang datang dari Arab, karena dianggap tidak sejalan dengan budaya Indonesia asli, meski Sarlito sendiri tidak mendifinisikan secara detail apa itu budaya Arab.  (Koran Sindo, Minggu 21 Juni 2015). 

Bahkan ada dari kalangan tokoh bergelar kyai yang menjelaskan aliran Islam nusantara seraya menyebut bahwa Islam Arab sebagai semacam penjajah yang berbeda dengan Islam nusantara.

Jika diekstrak, penulis opini di HU Republika, Jum’at 19 Juni 2015 dengan tajuk  NU dan Islam Nusantara ini ingin menyampaikan pesan beberapa karakter aliran Islam Nusantara dipandang dari berbagai sudut pandang.

Pertama, sudut pandang mazhab. Islam Nusantara adalah ekspresi keagamaan berdasarkan mazhab Imam Muhammad bin Idris as Syafi’i, alur pikir Imam Abu Hasan al ‘Asy’ary dan corak tasawuf konsep Imam al Ghazaly serta Imam Abi al Hasan al Syadzili.

Kedua, sudut pandang budaya, aliran Islam Nusantara merupakan pertemuan Islam normatif  dengan kondisi sosiobudaya masyarakat Jawa. Pertemuan ini tampak dari tradisi ziarah kubur, talqin mayat, sedekah untuk mayat, menyakini adanya syafaat, bermanfanfaatnya doa dan tawasul.

Tradisi keagamaan lain dari inspirasi budaya Jawa adalah mencintai keturunan  Rasul, para wali dan orang-orang sholeh serta mengharap keberkahan dari mereka, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Dengan kata lain Islam Nusantara adalah mental dan karakter keberagamaan yang dipengaruhi struktur wilayah kepulauan.

Ketiga sudut pandang ideologis, Islam Nusantara dianggap sebagai Islam moderat yang toleran sebagai sikap menghadapi problem sosial berupa derasnya tantangan liberalisme, kapitalisme, sosialisme dan radikalisme.

Padahal sebagaimana jamak diketahui bahwa aliran Islam moderat, radikal, teroris, liberal dan sejenisnya adalah aliran yang sengaja dibuat sebagai proyek Barat untuk menyerang Islam. Barat punya kepentingan ideologis yakni gerakan sekulerisasi dan polarisasi dunia Islam dibalik proyek aliran-aliran berlebel Islam.

*Islam dan Nusantara*
Agar lebih obyektif  untuk bisa memaknai  istilah Islam Nusantara yang istilah itu memang tidak tertera dalam sumber hukum Islam Al Qur’an dan Al Sunnah, melainkan sekedar produk pemikiran manusia, maka lebih baik disebut Islam dan Nusantara. Sebab Islam  memang datang dari Allah melalui Rasulullah dan untuk seluruh alam semesta, bukan hanya Indonesia.

Hal lain juga untuk menghindari interpretasi Islam Nusantara sebagai sebuah kebenarannya. Sebab istilah ini sudah masuk ke dalam ranah kajian keagamaan Islam yang tidak boleh mengabaikan sumber-sumber otentiknya seperti al Qur’an dan As Sunnah.

Arus yang berkembang dalam upaya pemaknaan istilah Islam Nusantara  menjadi dua arus utama.

Pertama, Islam Nusantara dimaknai sebagai semacam akulturasi Islam dengan budaya lokal. Islam sesungguhnya tidak pernah menentang sebuah budaya manusia selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Islam hanya melarang adanya mencampuraduk antara yang haq dan yang batil, juga dilarang menyembunyikan kebenaran yang datang dari Islam sebagai alternatif  mengganti kebatilan yang ada, padahal kita tahu yang benar itu.  (lihat QS Al Baqarah : 42). 

Islam sendiri adalah kebenaran yang datang dari Allah yang maha benar, pencipta seluruh manusia dan alam semesta (QS Ali Imran : 19).

Allah bahkan menginginkan sebuah kebaikan bagi seluruh manusia di dunia (QS An Nahl : 30). Tanpa harus merujuk kepada al Qur’an sebenarnya kebaikan dan keburukan sudah bisa diterawang dengan menggunakan akal dan naluri manusia.

Hanya agar lebih tepat, karena manusia sering menggunakan nafsu, maka al Qur’an diturunkan sebagai pedoman dan pembeda antara yang benar dan salah. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih di antara keduanya dengan konsekuensi yang harus didapatkan dari piilihannya itu.

Kedua, istilah Islam Nusantara ingin diarahkan kepada upaya menusantarakan Islam. Upaya ini selain akan menyempitkan makna Islam, juga akan mereduksi Islam sebagai petunjuk bagi manusia di muka bumi ini.

Sebab menusantarakan Islam akan berimbas kepada penolakan terhadap  simbol-simbol keislaman yang tidak sesuai dengan budaya nusantara yang juga tidak begitu jelas asal muasalnya. Simbol-simbol Islam yang “dituduh” sebagai simbol Arab akan dianggap bertentangan dengan nilai-nilai nusantara.

Dikhawatirkan lambat laun, aliran pemikiran ini akan berujung pada apa yang disebut gerakan sekulerisasi ala Turki oleh Kemal Attaturk yang mengubah azdan dengan bahasa Turki, Jilbab dilarang, masjid-masjid dialihfungsikan, pelarangan nama-nama bayi dengan bahasa Arab  dan seluruh perilaku maksiat dibolehkan atas nama kearifan lokal.

Attaturk sang diktator ateis menganggap  Islam tidak sesuai dengan perkembangan dan kemajuan. Sebaliknya Islam dianggap kuno dan  mencerminkan kemunduran budaya. Apakah ini yang akan terjadi di negeri ini ?.

Praktek ritual umroh yang terjadi beberapa waktu lalu  dengan meneriakkan pancasila dan nyanyian nasionalisme adalah sebagian kecil dari efek aliran Islam nusantara ini. Mungkin praktek ritual klenik juga akan terjadi beberapa waktu ke depan atas nama kearifan lokal.

Pengakuan dan pemujaan atas dewi sri dalam ritual panen beberapa waktu lalu bahkan mulai mendapat legitimasi oleh tokoh yang dianggap agamawan.

Dengan menyebut  istilah Islam dan Nusantara diharapkan bisa dipisahkan dahulu antara keduanya agar kita bisa mendefinisikan dengan tepat apa itu Islam, sumber hukumnya, visinya bagi dunia, sebab-sebab turunnya, dan sejarah penyebarannya oleh Rasulullah dan para pelanjutnya hingga sampai ke Indonesia.

Sementara nusantara sama kedudukannya dengan Jazirah Arab, Amerika, Afrika dan bahkan China sekalipun. Nusantara merujuk pada sebuah wilayah yang kini bernama Indonesia.

Prinsip Islam yang dibawa oleh Rasulullah bukan menusantarakan Islam, melainkan visi mengislamkan nusantara, mengislamkan dunia tanpa melalui paksaan. Sebab yang benar itu telah jelas dan yang tidak benar juga sudah jelas.

Islam hanya tidak memberikan toleransi terhadap setiap bentuk kejahatan, kezaliman, kerusakan dan kesewenang-wenangan terhadap sesama manusia.
Islam menginginkan sebuah keadilan sosial yang sempurna dan dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia, tanpa memandang agama, suku, warna kulit atau bahasa.

Islam bukanlah Arab, meskipun Islam pertama kali diturunkan di Arab melalui Rasulullah. Buktinya dakwah Islam yang dibawa Rasulullah justru diawali oleh penolakan dan penentangan orang-orang Arab. Sebab oleh orang Arab, Islam dianggap tidak sesuai dengan budaya dan kebiasaan jahiliyah saat itu.

Budaya dan tradisi jahilyah sebagaimana diketahui misalnya membunuh bayi perempuan, mabuk-mabukan, menikah tanpa batas jumlah, perzinahan, perjudian, klenik, syirik, paganisme, kecurangan dan bentuk-bentuk kezaliman dan ketidakadilan lainnya.

Namun lambat laun dengan kesabaran dan kesungguhan akhirnya bangsa Arab berhasil diislamkan oleh Rasulullah dengan dakwahnya.

Bangsa Arab tertarik dengan keindahan ajaran Islam yang mampu memberikan solusi bagi problem sosial saat itu dengan cara-cara yang sangat manusiawi dan penuh kasih sayang.

Jika Islam Nusantara ditafsirkan secara dangkal dan emosional dengan mengabaikan sumber hukum Al Qur’an dan As Sunnah dengan menjadikan budaya lokal sebagai tolok ukur kebenaran dan keburukan, maka istilah Islam Nusantara dikhawatirkan akan menjadi bagian dari propaganda neomodernisme alias ‘agama baru” dan “aliran baru” yang sedang disusupkan melalui para tokoh politik dan agama di Indonesia sebelum memasuki fase postmodernisme yakni menghilangkan Islam dari bumi nusantara.
 
*Islam Agama Dakwah*
Percepatan penyebaran agama Islam melalui dakwah, bukan senjata. Sebab Islam adalah agama dakwah yang dipelopori oleh Rasulullah SAW.

Islam berkembang cepat ke berbagai penjuru dunia dimulai sejak tahun ke 11 hijriyah. Islam berkembang dan diterima masyarakat dari Timur Tengah hingga belahan dunia Timur seperti India, hina, Asia Tenggara dan Indonesia.

Di bagian Barat, Islam diterima di wilayah Eropa hingga wilayah utara di perbatasan Rusia bagian selatan bahkan arah selatan di bunia Afrika menembus hingga ke Afrika Selatan. Kesemuanya ini berjalan selama seratus tahun sejak wafatnya Rasulullah.

Para sahabat Rasulullah SAW banyak yang meninggalkan Madinah untuk mengemban tugas dakwah Islam di luar jazirah Arab. Banyak makam para sahabat dan keluarga Rasulullah SAW berada di luar Jazirah Arab, misalnya di Kanton, China terdapat makan paman Rasulullah yang sangat dihormati.

Islam masuk nusantara pada abad ke tujuh berdasarkan teori Makkah sebagaimana diungkap oleh Buya Hamka dalam seminar Masuknya Islam ke Indonesia di Medan  tahun 1963. 

Sedang berdirinya  kesultanan Samodra Pasai pada abad ke 13 bukan bukti  awal kedatangan Islam melainkan bukti  perkembangan agama Islam di berbagai daerah di Nusantara.

Karena itu tidaklah perlu menghadap-hadapkan budaya Arab dengan budaya Nusantara dengan ajaran Islam yang berasal dari Allah dengan sumber hukum Al Qur’an ini.

Sebab keduanya memang memiliki perbedaan yang kuat. Islam diturunkan Allah adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan serta kebahagiaan seluruh manusia dengan hukum-hukumnya yang adil dan menenteramkan.

Jika manusia, apakah orang Indonesia, Amerika, China, Rusia, Afrika, Jepang atau suku Jawa, Padang, Sunda atau Batak jika kesemuanya mau tunduk dan patuh terhadap hukum Allah, maka dijamin kebahagiaan hidup akan diraih.

Islam tidak memaksa siapapun untuk Islam ataupun tidak. Rasulullah diutus hanya untuk menyampaikan kebenaran Islam atas seluruh sistem kehidupan sebelumnya.

Islam dengan seluruh ajarannya dari doa masuk toilet hingga bagaimana mendirikan  negara dilakukan dengan jalan dakwah penuh perdamaian dan kasih sayang, tidak ada paksaan. 

Menolak Islam dan menerimanya itu soal pilihan. Yang agak aneh justru jika ada seorang muslim tapi menolak penerapan hukum Islam secara kaffah. Termasuk aliran islam nusantara juga menolak formalisasi syariah Islam, sebab Islam nusantara memang cenderung sekuleristik.

Dengan mengganti istilah Islam Nusantara dengan Islam dan Nusantara, selain menghindari kebingungan intelektual, pencampuradukan pemikiran dan budaya, juga agar kedua istilah ini bisa dicarikan sumber hukum masing-masing. Sebab keduanya adalah dua istilah yang berbeda.

Istilah Islam Nusantara juga bisa menyebabkan   proses pendistorsian dan pendangkalan makna Islam. Tentu hal ini rawan ditunggangi kepentingan-kepentingan  liberalisme, kapitalisme, sosialisme, pluralisme  bahkan  radikalisme  untuk menghilangkan jejak sejarah Islam di Nusantara. 

Sebab menurut penulis,  problem sosial akibat penetrasi  kapitalisme dan sosialisme yang terjadi di Indonesia  bukan semata-mata soal budaya, melainkan soal imperialisme politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya yang menjadikan negeri ini tidak memiliki kedaulatan.

Tentu tidak  relevan jika dihubungkan  dengan sekedar perbedaan dan penolakan budaya Arab dalam  budaya Nusantara. Jauh panggang dari api, jauh  masalah dari solusi.

Untuk itu menolak aliran pemikiran Islam nusantara adalah cara umat Islam menjaga kesempurnaan Islam sekaligus bentuk penolakan terhadap proyek sekulerisme sebagai bagian dari imperialisme epistemologi Barat.

AhmadSastra,13/06/18, 04.22 WIB

Rabu, 16 Mei 2018

Bergembira Menyambut Ramadhan

"Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud Keimanan"

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ (رواه احمد)
Artinya :
_“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”_ [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991)]

Pelajaran yang terdapat pada hadits di atas :

1. Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan akan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.
2. Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.
3. Para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

_“Sebagian salaf berkata: ‘Dahulu mereka (para salaf) berdo'a kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdo'a selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.“_ [Latha’if Al-Ma’arif hal. 232]

4. Mengapa seorang Muslim harus bergembira menyambut Ramadhan? Karena begitu banyaknya kemuliaan, keutamaan, dan berkah pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada Allah.
5. Ulama menjelaskan bahwa hadits tersebut menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:

ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ. ‏(ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ ١٣‏)

_“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yang shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“_ [Ahaditsus Shiyam hal. 13]
Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan:

 ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ .

_“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan)."_ [Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148]

Tema hadits yang terkait dengan ayat Al-Qur'an :

❀ Kehadiran Ramadhan merupakan karunia Allah yang tiada taranya, sehingga tiada alasan bagi kita untuk tidak merasa gembira karenanya;

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ ۞

_“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”_ (QS. Yunus/10: 58).

Catatan :
Ada hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, akan tetapi haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif, diantaranya;

ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ .
_“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka."_ (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)

والله اعلم بالصواب
Semoga barokah dan manfaat....

               •┈◎❅❀❦🌼❦❀❅◎┈•

Kamis, 22 Maret 2018

Cerhik Jangan Putus Asa

Ada tulisan menarik buat kita renungkan sebelum beraktifitas. Entah siapa yg mulanya menuliskan ini.....

Repost by : @keizenhasan | @lautanmotivasi
🙏🏼

*_RENUNGAN Saat ini_*

Tidak ada
*"orang baik"*
yang tidak punya
*masa lalu*,
Dan tidak ada
*"orang  jahat"*
yang tidak punya
*masa depan*.

Setiap orang memiliki
*kesempatan*
yang sama untuk
*berubah menjadi lebih baik*.

Bagaimanapun masa lalunya dahulu,
sekelam apa lingkungannya dulu,
dan seburuk apa perangainya di masa lampau.

Berilah kesempatan seseorang untuk
*berubah*.

Karena,
*"seseorang yang hampir membunuh Rasul pun"*
kini berbaring di sebelah makam beliau. :
*Umar bin Khattab.*

Jangan melihat seseorang dari masa lalunya..
*"Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah pun"*
akhirnya menjadi pedang-nya
*Allah* :
*Khalid bin Walid*

Jangan memandang seseorang dari
*status*
dan
*hartanya*,
karena
*sepatu emas fir'aun berada di neraka*,
sedangkan
*terompah Bilal bin rabah terdengar di syurga.*

*Intinya*,

Jangan memandang
*remeh*
seseorang karena
*masa lalu*
dan
*lingkungannya*,
karena
*bunga teratai*
tetap
*mekar cantik*
meski tinggal di air yang kotor.

Maka untuk jadi
*hebat*
yang diperlukan adalah
*kuatnya tekad*.

Tak perlu pusingkan masa lalu,
tak perlu malu dengan tempat asalmu,
jika kau mau.

Kau bisa menjadi laksana
*bunga teratai*
yang tinggal di air yang kotor namun tetap
*mekar mengagumkan*.

*Berubah*
dan
*bangkit*
jauh lebih
*indah*
dari pada
*diam*
dan hanya
*bermimpi*
tanpa melakukan tindakan apapun.

*INGATLAH!!!*

Jika semua yang kita
*kehendaki*
terus kita
*miliki*,
dari mana kita belajar *Ikhlas...*?

Jika semua yang kita
*impikan*
segera
*terwujud*,
darimana kita belajar
*Sabar...*

Jika setiap
*do’a*
kita terus
*dikabulkan*,
bagaimana kita dapat belajar
*Ikhtiar...*

Seorang yang dekat dengan
*Allah*,
bukan berarti tidak ada
*air mata...*

Seorang yang tekun
*berdo’a*,
bukan berarti tidak ada
*masa² sulit...*

Biarlah
*Sang Penyelenggara Hidup*
yang berdaulat sepenuhnya atas kita,
karena hanya
*Dia-lah/ ALLAH SWT*
yang tahu waktu dan kondisi yang tepat untuk memberikan yang
*Terbaik..*

Tetap
*SEMANGAT…*
Tetap
*SABAR…*
Tetap
*IKHLAS…*
Tetap
*SYUKUR...*
Tetap
*BERDOA...*
Karena kamu sedang kuliah di *_UNIVERSITAS KEHIDUPAN..._*

Orang yang
*Hebat*
tidak dihasilkan melalui
*Kemudahan,*
*Kesenangan,*
dan
*Kenyamanan...*

Mereka dibentuk melalui
*KESUKARAN,*
*TANTANGAN*
dan bahkan
*AIR MATA*..

Gantungkan hidup kita sepenuhnya hanya kepada
*_ALLAH AZZA WA JALLA_*

Salam.

Kamis, 15 Maret 2018

Loker Tendik SMK IT ATTAQWA 9

LOKER TENDIK

Yayasan Attaqwa Pusat
SMKIT. Attaqwa 9
Ujungharapan Bahagia Babelan Bekasi

Temukan karir dan masa depan guru yang gemilang. 

Loker Tendik 
(lowongan kerja tenaga pendidik dan kependidikan) SMK IT. Attaqwa 9, mengundang rekan-rekan akademisi dan profesional untuk menjadi tenaga pengajar/guru di lingkungan Yayasan Attaqwa Pusat - SMK IT.  Attaqwa 9.

Persyaratan:
●curriculum vitae
●legalisir ijazah
●surat pernyataan bukan sebagai tenaga pengajar/guru tetap pada sekolah/madrasah
●diutamakan bidang ilmu yang linier

Kualifikasi:
●S1 semua jurusan diutamakan Ekonomi Akuntansi, Otomotif (TSM/TKR), Teknik Komputer dan Jaringan (TI/SI), FKIP/FMIPA/FT, Psikologi/BP, Kesenian/SBK
●Lancar membaca al-Qur'an dengan tajwid
●Memiliki kemampuan komunikasi dan interpersonal yang baik
●Mampu bekerja secara individu dan tim
●Sanggup bekerja dalam tekanan, jujur dan bertanggung jawab

Benefit yang akan diperoleh:
●Gaji tetap bulanan (gaji pokok, tunjangan, transportasi dan lainnya
●Bonus sesuai prestasi
●Tunjangan hari raya
●Peluang dan jenjang karir

PROSEDUR  
Kirimkan lamaran dan pas foto terbaru ke biro HRD SMKIT. Attaqwa 9
Jln. Ujungharapan Musholla Assalam Kel. Bahagia Kec. Babelan Kab. Bekasi.

Telepon:
Kantor  : 021 - 8888 6776
Hp/WA : 0812 1094 9978
                0896 8802 6832
                0896 6719 3866
                
Buka setiap hari :
1. Senin s/d Kamis Pukul : 07.30-15.00 WIB
2. Sabtu                    Pukul : 07.30-12.00 WIB

Rabu, 21 Februari 2018

Cerhik Jangan Sombong

Pada suatu hari sepasang suami isteri kaya sedang makan bersama di rumahnya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seorang pengemis. Melihat keadaan pengemis itu, si isteri merasa terharu dan dia bermaksud hendak memberikan sesuatu.

Tetapi sebelumnya sebagai seorang wanita yang patuh kepada suaminya, dia meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya, "Suamiku, bolehkah aku memberi makanan kepada pengemis itu ?".

Rupanya suaminya memiliki karakter berbeda dengan wanita itu. Dengan suara lantang dan kasar dia menjawab, "Tidak usah! usir saja dia, dan tutup kembali pintunya!" Si isteri terpaksa tidak memberikan apa-apa kepada pengemis tadi sehingga dia berlalu dengan kecewa.

Hari demi hari berlalu, perdagangan lelaki itu jatuh bangkrut. Kekayaannya habis dan ia menderita banyak hutang. Selain itu, karena ketidakcocokan sifat dengan isterinya, rumah tangganya menjadi berantakan sehingga terjadilah perceraian.

Tidak lama sesudahnya bekas isteri yang bangkrut itu menikah lagi dengan seorang pedagang kaya dikota dan hidup berbahagia. Pada suatu ketika wanita itu sedang makan dengan suaminya (yang baru), tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk seseorang. Setelah pintunya dibuka ternyata tamu tak diundang itu adalah seorang pengemis yang sangat mengharukan hati wanita itu. Maka wanita itu berkata kepada suaminya, "Wahai suamiku, bolehkah aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini?". Suaminya menjawab, "Berikanlah makan  pengemis itu dengan daging ayam seperti yg kita makan!".

Setelah memberi makanan kepada pengemis itu isterinya masuk kedalam rumah sambil menangis. Suaminya dengan perasaan heran bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menangis? apakah karena aku menyuruhmu memberikan daging ayam kepada pengemis itu?".

Wanita itu menggeleng halus, lalu berkata dengan nada sedih, "Wahai suamiku, aku sedih dengan perjalanan takdir yang sungguh menakjubkan hatiku. Tahukah engkau siapa pengemis yang ada diluar itu ?............ Dia adalah suamiku yang pertama dulu."

Mendengar keterangan isterinya demikian, sang suami sedikit terkejut, tapi segera ia balik bertanya, "Dan, tahukah engkau siapa aku yang kini menjadi suamimu ini?..................
Aku adalah pengemis yang dulu diusirnya!".

Roda hidup selalu berputar. Anda tidak akan pernah tahu posisi Anda akan diatas atau di bawah.

Cerita ini diambil dari:
"Syarah Ratib Alhaddad'
Karya AlHabib Alawi bin Ahmad bin Hasan bin Abdulloh bin Alawi Al Haddad.

Renungan :
"Jangan Bersikap Sombong ketika berada diATAS apalagi tidak sedang berada diATAS..
Tebarkan perbuatan baik dimana - mana maka anda akan menerima balasannya dengan jalan tak disangka-sangka dan jauh lebih indah"

Salam kebaikan
Muiz Abduh

Rabu, 14 Februari 2018

Attaqwa Mengkaji Yanbu'a - Mengaji Al-Qur'an

Pondok Pesantren Attaqwa Putra, Ujungharapan Babelan Bekasi -- Menggalakan semangat mengaji al-Qur'an bagi kalangan Guru dengan metode Yanbu'a. Hal ini diprakasai oleh Sekjen Pondok (H. Iman Fadhlurrohman, Lc., MA) dengan menugaskan Guru-guru untuk mengkaji metode tersebut dalam kegiatan Diklat Muqri Yanbu'a, Ahad (11/2).

Sebenarnya sebelum kegiatan Diklat diadakan, Guru-guru sudah lebih dahulu diajak mengkaji metode Yanbu'a. Banyak kalangan bertanya (baca alumni) apa itu Yanbu'a? Yanbu'a adalah suatu metode pembelajaran membaca, menulis dan menghafal Al-Qur'an yang disusun sistematis terdiri 7 jilid, cara membacanya langsung tidak mengeja, cepat, tepat, benar dan tidak putus-putus disesuaikan dengan makhorijul huruf dan ilmu tajwid.

Nama Yanbu'a ini sebenarnya diambil dari sebuah nama pesantren yang diasuh oleh KH. M. Arwani Amin. Dimana cikal bakal pesantren ini berawal dari pengajian yang diampu oleh Beliau, yang telah dimulai sejak tahun 1942 di masjid Kenepan. Di Masjid ini beliau menerima para santri yang ingin belajar Al Qur’an baik bin nadhor maupun bil ghoib. Pengajian ini sempat terhenti pada rentang waktu antara tahun 1947 s.d 1957 disebabkan kesibukan beliau menuntut ilmu Thariqoh di pesantren Popongan, Solo.

Setelah tahun 1957 pengajian itu pun kembali berlanjut. Pada tahun 1962, KH. M. Arwani menempati sebuah rumah baru di kelurahan Kajeksan, maka tempat pengajian pun turut dipindahkan tak jauh dari rumah beliau yang baru yaitu di masjid Busyro latif.

Seiring berjalannya waktu, santri yang belajar pada beliau semakin bertambah. Beliau pun berniat untuk mendirikan sebuah pesantren untuk menampung para santri agar mereka bisa lebih mudah dalam belajar. Akhirnya pada tahun 1973 didirikanlah sebuah pesantren Al Qur’an yang diberi nama “Yanbu’ul Qur’an”. Nama Yanbu’ul Qur’an yang berarti mata air (sumber) Al Qur’an dipilih oleh KH. M. Arwani sendiri yang dipetik dari Al Qur’an Surat Al Isra’ ayat 90. Dengan nama tersebut diharapkan Pondok Tahfidz Yanbu'ul Qur'an bisa benar-benar menjadi sumber ilmu Al Qur’an.

Dari sinilah Ustadz Iman (anak pertama dari Abuya KH. Nurul Anwar, Lc) memilih metode baca Al-Qur'an (baca Yanbu'a) yang nantinya akan diterapkan di Pondok Pesantren Attaqwa Putra. Angkatan pertama yang mengikuti program Yanbu'a ini dari kalangan Guru-guru Pondok diantaranya : M. Haril Rosyadi; Anis Abdul Qudus; Abd. Muiz Muhasyim; Nurhasan Dzurjani; Haidir Ali Murais; Akbar Qolbun; M. Sholeh Nijan; Abdul Muiz Mui'in; Kamaluddin Fahsya; Abdul Hafidz. Memang pada angkatan pertama ini tidak banyak Guru yang mengikuti pelatihan program Yanbu'a, akan tetapi berjalan waktu semua Guru akan diwajibkan mengikuti program tersebut.

Semangat mengkaji program Yanbu'a dan mengaji Al-Qur'an dari para Guru sudah terbentuk, perlahan-lahan metode ini diterapkan dikalangan para Santri. Harapan besar timbul dari Pimpinan Umum Pondok Pesantren Attaqwa "akan menyala lampu al-Qur'an yang dulu pernah hidup dan sekarang meredup" (ujar Beliau dalam sambutan di acara Pembagian Rapor Santri) Ahad, (4/2) di Masjid Jami' Attaqwa.